
Mencegah Wabah Mentalitas Instan
Oleh HM Harry Mulya Zein (Sekretaris Daerah Kota Tangerang)
Sabtu (24/7) akhir pekan lalu, salah satu koran nasional menurunkan berita utamanya mengenai tingginya biaya pemilihan kepala daerah (pilkada). Ditulis, sepanjang pelaksanaan pilkada tahun 2010-2014, biaya yang harus dikeluarkan untuk menyelenggarakan pilkada mencapai Rp 15 triliun. Angka yang cukup besar. Tentu angka itu belum ditambah dengan biaya yang harus dikeluarkan para peserta pilkada dan ongkos sosial jikalau pelaksanaan pilkada mengalami kerusuhan, seperti yang sudah terjadi di beberapa wilayah.
Yang disayangkan banyak pihak, tingginya biaya pilkada yang harus dikeluarkan itu tidak berbanding lurus dengan kualitas pemimpin yang dihasilkan oleh pelaksanaan pilkada. Bahkan kesan yang muncul adalah, tingginya biaya pilkada itu berbanding lurus dengan peningkatan budaya instan di masyarakat. Pepatah ’don’t look the book by the cover’, sepertinya sudah usang dan ditinggalkan sebagian besar masyarakat Indonesia . Sebagian besar masyarakat sepertinya lebih senang dan tertarik the cover (penampilan) daripada contens (kapabilitas).
Penampilan dalam arti di sini tidak sekadar penampilan fisik, tetapi penampilan isi kantong (baca: bermodal besar). Figur-figur berkualitas yang memiliki konsep jelas dan educated sepertinya sudah tidak laku, atau memang sengaja diabaikan. Ideologi “simpleisme”semakin digandrungi sebagian besar maysarakat. Akibatnya, mentalitas instantisme semakin mengental di sebagian masyarakat kita.
Kondisi ini bukan lahir begitu saja. Tidak sedikit cendekiawan yang mengemukakan, mental instantisme lahir lantaran perkembangan budaya instant yang sulit dicegah. Lantas apa sebenarnya budaya instant itu?
Secara teoritis, budaya instant adalah suatu istilah yang digunakan oleh manusia untuk menjuluki keadaan dunia jaman sekarang, dunia yang serba cepat. Mengapa instant disebut budaya? Edward Burnett Tylor pada abad ke-19 menyatakan, budaya atau kebudayaan merupakan suatu keseluruhan yang kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, politik, adat-istiadat, dan segala kemampuan serta kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Intinya, budaya instant dikatakan sebuah budaya karena hal itu sudah menjadi sebuah kebiasaan dalam masyarakat. Kebiasaan yang ingin segala sesuatu diperoleh secara cepat tanpa melalui proses. Hal ini merupakan dampak dari tuntutan jaman yang semakin kompleks.
Budaya instant termasuk dalam ketidakseimbangan tersebut. Orang lebih mementingkan hasil dari pada proses, meski untuk memperoleh hasil dilakukan melalui pelbagai cara.
Kita juga tidak bisa menyangkal bahwa saat ini kita terjebak dalam arus budaya instant. Banyak produk yang bersifat instant yang bisa kita temui di mana saja entah itu berupa makanan, pakaian, alat komunikasi, dan teknologi yang semakin canggih dan menawarkan kenyamanan bagi para pemakainya merupakan salah satu faktor utama dari munculnya budaya instant.
Tanpa kita sadari hal ini sangat mempengaruhi mentalitas kita yang selalu ingin segala sesuatunya diperoleh secara instant dan bahkan menggunakan cara-cara yang menyimpang. Inilah yang dinamakan dengan “mentalitas instantisme”.
Budaya instan yang intinya memanjakan manusia inilah barangkali ikut mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya generasi manja. Generasi ini tidak terbiasa bekerja dan berpikir keras. Mereka tidak dibiasakan untuk memahami suatu proses dan hanya mengetahui hasil. Suatu proses bagi generasi ini dianggap suatu hal yang menyulitkan digapai dan berbelit-belit.
Film dan cerita-cerita yang beredar di masyarakat justru menyajikan tokoh-tokoh yang mencapai keberhasilan secara ekstra cepat, senada dengan proses instant. Sedikit sekali film yang menunjukkan seorang pegawai yang harus bekerja sangat keras untuk menapaki jalur karirnya.
Kebanyakan film menunjukkan orang yang baru masuk kerja langsung sudah punya kursi direktur, ruang kerja pribadi punya mobil lengkap dengan sopir. Banyaknya contoh dari berbagai macam jenis profesi dan tokoh berhasil dalam profesi itu, telah memancing hasrat kaum muda untuk bisa menjadi seperti mereka. Apalagi seiring dengan keberhasilan mereka telah ditunjukkan pula semua atribut sampingan yang membuat orang kagum atau tergiur.
Pertanyaannya, apakah kita harus “berserah diri” kepada jebakan budaya instan tersebut? Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan itu. Tetapi yang bisa kita lakukan adalah membuat gerakan peningkatan etos kerja, yang berujung kepada budaya etos kerja keras. (*)
Sabtu (24/7) akhir pekan lalu, salah satu koran nasional menurunkan berita utamanya mengenai tingginya biaya pemilihan kepala daerah (pilkada). Ditulis, sepanjang pelaksanaan pilkada tahun 2010-2014, biaya yang harus dikeluarkan untuk menyelenggarakan pilkada mencapai Rp 15 triliun. Angka yang cukup besar. Tentu angka itu belum ditambah dengan biaya yang harus dikeluarkan para peserta pilkada dan ongkos sosial jikalau pelaksanaan pilkada mengalami kerusuhan, seperti yang sudah terjadi di beberapa wilayah.
Yang disayangkan banyak pihak, tingginya biaya pilkada yang harus dikeluarkan itu tidak berbanding lurus dengan kualitas pemimpin yang dihasilkan oleh pelaksanaan pilkada. Bahkan kesan yang muncul adalah, tingginya biaya pilkada itu berbanding lurus dengan peningkatan budaya instan di masyarakat. Pepatah ’don’t look the book by the cover’, sepertinya sudah usang dan ditinggalkan sebagian besar masyarakat Indonesia . Sebagian besar masyarakat sepertinya lebih senang dan tertarik the cover (penampilan) daripada contens (kapabilitas).
Penampilan dalam arti di sini tidak sekadar penampilan fisik, tetapi penampilan isi kantong (baca: bermodal besar). Figur-figur berkualitas yang memiliki konsep jelas dan educated sepertinya sudah tidak laku, atau memang sengaja diabaikan. Ideologi “simpleisme”semakin digandrungi sebagian besar maysarakat. Akibatnya, mentalitas instantisme semakin mengental di sebagian masyarakat kita.
Kondisi ini bukan lahir begitu saja. Tidak sedikit cendekiawan yang mengemukakan, mental instantisme lahir lantaran perkembangan budaya instant yang sulit dicegah. Lantas apa sebenarnya budaya instant itu?
Secara teoritis, budaya instant adalah suatu istilah yang digunakan oleh manusia untuk menjuluki keadaan dunia jaman sekarang, dunia yang serba cepat. Mengapa instant disebut budaya? Edward Burnett Tylor pada abad ke-19 menyatakan, budaya atau kebudayaan merupakan suatu keseluruhan yang kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, politik, adat-istiadat, dan segala kemampuan serta kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Intinya, budaya instant dikatakan sebuah budaya karena hal itu sudah menjadi sebuah kebiasaan dalam masyarakat. Kebiasaan yang ingin segala sesuatu diperoleh secara cepat tanpa melalui proses. Hal ini merupakan dampak dari tuntutan jaman yang semakin kompleks.
Budaya instant termasuk dalam ketidakseimbangan tersebut. Orang lebih mementingkan hasil dari pada proses, meski untuk memperoleh hasil dilakukan melalui pelbagai cara.
Kita juga tidak bisa menyangkal bahwa saat ini kita terjebak dalam arus budaya instant. Banyak produk yang bersifat instant yang bisa kita temui di mana saja entah itu berupa makanan, pakaian, alat komunikasi, dan teknologi yang semakin canggih dan menawarkan kenyamanan bagi para pemakainya merupakan salah satu faktor utama dari munculnya budaya instant.
Tanpa kita sadari hal ini sangat mempengaruhi mentalitas kita yang selalu ingin segala sesuatunya diperoleh secara instant dan bahkan menggunakan cara-cara yang menyimpang. Inilah yang dinamakan dengan “mentalitas instantisme”.
Budaya instan yang intinya memanjakan manusia inilah barangkali ikut mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya generasi manja. Generasi ini tidak terbiasa bekerja dan berpikir keras. Mereka tidak dibiasakan untuk memahami suatu proses dan hanya mengetahui hasil. Suatu proses bagi generasi ini dianggap suatu hal yang menyulitkan digapai dan berbelit-belit.
Film dan cerita-cerita yang beredar di masyarakat justru menyajikan tokoh-tokoh yang mencapai keberhasilan secara ekstra cepat, senada dengan proses instant. Sedikit sekali film yang menunjukkan seorang pegawai yang harus bekerja sangat keras untuk menapaki jalur karirnya.
Kebanyakan film menunjukkan orang yang baru masuk kerja langsung sudah punya kursi direktur, ruang kerja pribadi punya mobil lengkap dengan sopir. Banyaknya contoh dari berbagai macam jenis profesi dan tokoh berhasil dalam profesi itu, telah memancing hasrat kaum muda untuk bisa menjadi seperti mereka. Apalagi seiring dengan keberhasilan mereka telah ditunjukkan pula semua atribut sampingan yang membuat orang kagum atau tergiur.
Pertanyaannya, apakah kita harus “berserah diri” kepada jebakan budaya instan tersebut? Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan itu. Tetapi yang bisa kita lakukan adalah membuat gerakan peningkatan etos kerja, yang berujung kepada budaya etos kerja keras. (*)








0 comments:
Post a Comment